Rabu, 09 Oktober 2019

Perempuan

Karakteristik Perempuan Ahli Surga
1. Beriman dan Bertakwa kepada Allah
Swt.
Karakteristik pertama bagi perempuan ahli surga adalah
beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Beriman kepada
Allah Swt. adalah syarat mutlak untuk mendapatkan tiket
ke surga. Seorang perempuan kafir, meskipun ia melaku￾kan amal saleh, amalnya akan percuma dan tetap akan
diganjar Allah Swt. dengan neraka. Hal ini sebagaimana
tersebut dalam firman Allah Swt., Dan orang-orang kafir,
amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah
datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi
jika didatangi tidak ada sesuatu apa pun (QS An-Nur [24]:
39).
Tentu untuk memiliki iman yang kuat kepada Allah
Swt. kita harus mendapatkan hidayah (petunjuk). Untuk
bisa mendapatkan hidayah, sebetulnya yang perlu kita
lakukan hanyalah membuka mata hati dan pikiran kita.
Bersihkan kalbu dari hawa nafsu yang negatif, hilangkan
rasa dengki dan prasangka buruk. Lalu, bersikap terbuka￾lah terhadap setiap kebenaran. Jangan pernah menolak
terhadap kebenaran. Teruslah bersikap dahaga terhadap
kebenaran. Apabila bertemu dengan kebenaran, jangan
melihat siapa yang menyampaikannya, tetapi apa yang
disampaikannya. Dan terpenting, jangan pernah puas dan
berhenti belajar.
Hal ini sebagaimana pernah terjadi dalam kisah
khalifah Umar bin Khaththab yang hendak membeli
seekor kambing dari seorang anak penggembala. Sang
Khalifah berkata kepada sang Penggembala, “Berikan￾lah kepadaku salah satu kambingmu itu dan kamu bisa
mengatakan kepada tuanmu bahwa kambing itu hilang.
Bukankah sering kali kambing-kambing itu hilang dima￾kan serigala?”
“Tidak, saya mungkin bisa membohongi tuan saya
yang memiliki kambing ini. Namun, saya tidak bisa
membohongi Tuhan Yang Maha Melihat,” ujar sang anak
gembala.
Mendengar jawaban si penggembala itu, sang Khalifah
pun merasa sangat malu dan menyesal akan perbuatannya
itu. Beliau lalu berterima kasih kepada Sang Penggembala
itu karena telah megingatkannya tentang ihsanu billah,
adanya pengawasan Allah Swt., meskipun nasihat itu ter￾ucap dari seorang anak penggembala.
Ketika iman itu telah kita miliki, rawatlah ia dan
jagalah. Berilah ia pupuk agar tumbuh subur dengan cara
menambah ilmu: membaca kitab dan membaca alam.
Iqra! Perintah Allah Swt. untuk membaca itu sesung￾guhnya adalah perintah untuk membaca alam semesta.
Sungguh, apabila kita mau mengamati dan mempelajari
kedahsyatan alam semesta ini, kita pasti akan sampai pada
keimanan yang kukuh. Tidak perlu jauh-jauh, cobalah
amati kedahsyatan sistem kerja tubuh kita sendiri. Sungguh luar biasa tubuh kita ini dan amatlah super luar biasa
lagi penciptanya.

Kamis, 03 Oktober 2019

Hakikat Islam
Islam berasal dari kata, as-salamu, as-salmu, danas-silmu yang berarti: menyerahkan diri, pasrah, tunduk, dan patuh. Berasal dari kata as-silmu atau as-salmu yang berarti damai dan aman. Berasal dari kata as-salmu, as-salamu, dan as-salamatu yang berarti bersih dan selamat dari kecacatan-kecacatan lahir dan batin.
Pengertian Islam menurut istilah yaitu, sikap penyerahan diri (kepasrahan, ketundukan, kepatuhan) seorang hamba kepada Tuhannya dengan senantiasa melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, demi mencapai kedamaian dan keselamatan hidup, di dunia maupun di akhirat.
Siapa saja yang menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada Alloh, maka ia seorang muslim, dan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Alloh dan selain Alloh maka ia seorang musyrik, sedangkan seorang yang tidak menyerahkan diri kepada Alloh maka ia seorang kafir yang sombong.[3]
Dalam pengertian kebahasan ini, kata Islam dekat dengan arti kata agama. Senada dengan hal itu Nurkholis Madjid berpendapat bahwa sikap pasrah kepada Tuhan adalah merupakan hakikat dari pengertian Islam. Dari pengertian itu, seolah Nurkholis Madjid ingin mengajak kita memahami Islam dari sisi manusia sebagai yang sejak dalam kandungan sudah menyatakan kepatuhan dan ketundukan kepada Tuhan, sebagaImana yang telah diisyaratkan dalam surat al-A’rof ayat 172 yang artinya:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”[4]
Berkaitan dengan Islam sebagai agama, maka tidak dapat terlepas dari adanya unsur-unsur pembentuknya yaitu berupa rukun Islam, yaitu:
1)      Membaca dua kalimat Syahadat
2)      Mendirikan sholat lima waktu
3)      Menunaikan zakat
4)      Puasa Romadhon
5)      Haji ke Baitulloh jika mampu.